Selasa, 05 November 2013

Euforia Strategi Membangun Kebanggan Bangsa


Punggawa timnas U-19 kembali menyuguhkan setetes kebahagiaan untuk bangsa ini, setelah berhasil lolos pada babak kualifikasi kejuaraan Piala AFC U-19 yang akan digelar di Myanmar pada 2014 nanti.

Kebahagiaan ini begitu terasa karena pasukan Indra Sjafri tersebut berhasil membungkam sang juara bertahan, Korea Selatan (Korsel), dengan skor 3-2. Sebelumnya, mereka berhasil menyuguhkan trofi juara AFF Cup U-19. Walaupun baru sebatas lolos babak kualifikasi Piala AFC, kemenangan atas Korsel patut menjadi kebanggaan karena pasukan Taegeuk Warriors tersebut adalah pemegang kasta tertinggi sepak bola.

Tim U-19 mereka adalah peraih rekor juara AFC terbanyak, 12 kali juara! Dengan menundukkan Korsel, secara tidak langsung mendeklarasikan bahwa sepak bola U-19 Indonesia sudah masuk pusaran persaingan tingkat Asia. Hingga beberapa hari pascakemenangan itu, ekspresi kegembiraan dan puja-puji atas apa yang dipersembahkan Evan Dimas dkk itu masih sangat terasa.

Terlebih, masyarakat kemudian membandingkannya dengan penampilan timnas senior saat berhadapan dengan China di Kualifikasi Piala Asia 2015. Komentator amatiran di dunia maya membandingkan penampilan timnas U-19 dengan senior mereka, seperti penampilan Barcelona-nya Asia dengan tim kelas tarkam. Lihat saja penampilan yang dipertontonkan Evan Dimas, Maldini Pali, Muhammad Hargianto, Zulfiandi, Fatchu Rochman, Hansamu Yama Pranata, Putu Gede Juni Antara, Ravi Murdianto, dan lainnya. Permainan secara individu dan tim begitu luar biasa.

Tenaga dan semangat mereka untuk memenangkan pertandingan juga luar biasa. Hasilnya pun luar biasa. Apa yang disuguhkan timnas U-19 tersebut harus bisa menjadi benchmark. Namun, terlalu kecil jika yang diperbandingkan adalah timnas senior atau sepak bola Indonesia secara keseluruhan. Pasalnya, sebenarnya secara lebih luas para punggawa Garuda Jayaitu banyak memberi inspirasi pada bangsa ini.

Sangat sayang jika inspirasi itu hanya dikotakkan sebatas kekaguman dan euforia atas kehebatan mereka bermain bola. Mereka memberi pelajaran bangsa ini akan pentingnya kedisiplinan, kerja keras, dan semangat tanpa menyerah. Mereka memberikan pelajaran tentang arti penting kekompakan dan kolektivitas sebagai faktor penting untuk mendukung strategi mencapai tujuan. Nilai-nilai positif harus diakui telah luntur dari jiwa masyarakat dan bangsa ini.

Anak-anak muda itu memberi pelajaran pentingnya rasa syukur terhadap segala nikmat yang diperoleh dan penghormatan terhadap pemimpin, dalam hal ini pelatih Indra Sjafri. Mereka bersujud setiap berhasil mencetak gol, dan mencium tangan pelatih saat ditarik keluar. Harus diakui pula, etika vertikal dan horizontal tersebut telah kian melemah. Mereka juga memberi pelajaran akan pentingnya rasa bangga terhadap Garuda,serta rasa percaya diri yang begitu tinggi dan tidak peduli siapa lawan yang dihadapi.



Makna Motif Batik

Motif Parang

Motif Parang identik dengan beralur miring 45 derajat, Komposisi miring pada parang menandakan kekuatan dan gerak cepat, yang dipercaya memberi kekuatan magis pada batik bercorak parang itu adalah mlinjon, pemisah komposisi miring berbentuk seperti ketupat.Corak parang berpola pedang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan, pada jaman dahulu batik bercorak parang biasanya hanya diperuntukkan para ksatya dan penguasa. Menurut kepercayaan, corak parang harus dibatik tanpa salah agar tak menghilangkan kekuatan gaibnya. Ada beberapa jenis motif parang sesuai dengan makna dan kepercayaan.
http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parang.jpg?w=260&h=270      http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parang-kusumo.jpg?w=260&h=270
Motif Parang                                                                                                      Motif Parang kusumo

http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parang-curiga.jpg?w=260&h=270         http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parang-klitik.jpg?w=260&h=270
Motif Parang Curiga                                                                        Parang Klithik

http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parang-centhung.jpg?w=260&h=270         http://raradjonggrang.files.wordpress.com/2011/12/parabg-tuding.jpg?w=260&h=270
Motif Parang Centung                                                                   Motif Parang Tuding

Maskot Propinsi Jawa Tengah

Burung Kepodang, Identitas Propinsi Jawa Tengah
Burung Kepodang (Oriolus chinensis) merupakan burung berkicau yang mempunyai bulu yang indah. Burung Kepodang cukup dikenal dalam budaya Jawa, khususnya Jawa Tengah, selain hanya karena Burung Kepodang merupakan fauna identitas provinsi Jawa Tengah, Burung Kepodang juga sering dipergunakan dalam tradisi ‘mitoni’ (tradisi tujuh bulan kehamilan). Konon, ibu hamil yang memakan daging burung Kepodang akan mendapatkan anak yang ganteng atau cantik jelita.

Burung Kepodang yang merupakan fauna identitas provinsi Jawa Tengah ini dikenal juga dengan sebutan manuk pitu wolu karena bunyinya yang nyaring mirip dengan ucapan pitu-wolu (tujuh delapan). Selain itu, burung ini juga terkenal sebagai burung pesolek yang selalu tampil cantik, rapi, dan bersih termasuk dalam membuat sarang.

Masyarakat Sunda biasa menyebut burung Kepodang ini dengan sebutan Bincarung. Sedangkan beberapa daerah di Sumatera menyebutnya sebagai Gantialuh dan masyarakat di Sulawesi menyebutnya Gulalahe. Burung Kepodang ini dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Black Naped Oriole. Di Malaysia disebut burung Kunyit Besar. Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin), Burung Kepodang disebut Oriolus chinensis.


Burung kepodang berasal dari daratan China dan penyebarannya mulai dari India, Asia Tenggara, kepulauan Philipina, termasuk Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Burung ini hidup di hutan-hutan terutama di daerah tropis dan sedikit di daerah sub tropis dan biasanya hidup berpasangan . Di pulau Jawa dan Bali burung kepodang sering disebut dengan kepodang emas.
http://lh5.ggpht.com/wF1iq6P3ai2ywd2zuC_KoYTtkAMjBcHjP-4GKGzugaG1Z5l9SPkAWcGZObsWD8lZN_-jvzrsXCha1zfylR_JsRog9g
Burung Kepodang (Oriolus chinensis) berukuran relatif sedang, panjang mulai ujung ekor hingga paruh berkisar 25 cm. Bulunya indah berwarna kuning keemasan sedang bagian kepala,sayap dan ekor ada sebagian bulu yang berwarna hitam. Ciri khas burung Kepodang adalah terdapatnya garis hitam melewati mata dan tengkuk.

Iris mata burung Kepodang berwarna merah sedangkan paruhnya berwarna merah jambu dan kedua kakinya berwarna hitam. Burung Kepodang yang ditetapkan sebagai maskot (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah ini mempunyai siulan seperti bunyi alunan seruling dengan bunyi “liiuw, klii-lii-tii-liiuw” atau “u-dli-u”. Selain mempunyai ocehan yang sangat keras dan nyaring, Kepodang juga pandai menirukan suara burung Ciblek, Prenjak, Penthet bahkan suara burung Raja Udang.

Makanan utama Kepodang adalah buah-buahan seperti pisang dan papaya, serangga kecil dan biji-bijian dan sesekali memakan ulat bumbung dan ulat pisang. Burung Kepodang biasa hidup berpasangan. Burung betina biasanya membuat sarang dengan teliti pada ranting pohon.

Kantil (Michelia alba) dari Jawa Tengah.Bunga Kantil Putih yang berbau harum biasa digunakan untuk ritual adat. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun terutama
musim hujan. Kantil (Cempaka Putih) merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter. Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba dan masih berkerabat dekat dengan bunga jeumpa (cempaka kuning) ini merupakan tanaman khas (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah.
Mitos yang berkembang di masyarakat, aroma bunga kantil yang khas sangat disukai oleh kuntilanak, sejenis makhlus halus berjenis kelamin perempuan. Kuntilanak, menurut mitos ini, sering menjadikan pohon kantil (cempaka putih) sebagai rumah tempat tinggalnya. Terlepas dari mitos tersebut, kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah baik dalam prosesi perkawinan maupun kematian.







Kuncup bunga kantil (cempaka putih)
http://alamendah.files.wordpress.com/2010/05/kantil-cempaka-putih-michelia-alba.jpg?w=299&h=400
Tanaman kantil mempunyai beberapa nama lokal di berbagai daerah di Indonesia. Nama-nama lokal tersebut diantaranya adalah cempaka putih, kantil (Jawa), cempaka bodas (Sunda), campaka (Madura), jeumpa gadeng (Aceh), campaka putieh (Minangkabau), sampaka mopusi (Mongondow), bunga eja kebo (Makasar), bunga eja mapute (Bugis), capaka bobudo (Ternate), capaka bobulo (Tidore).
Dalam bahasa Inggris, fauna identitas Jawa Tengah ini disebut White champaca. Di Filipina tanaman ini dikenal sebagai Tsampakang puti. Dalam bahasa ilmiah (latin) bunga kantil disebut sebagai Michelia alba yang bersinonim dengan Michelia longifolia (Blume).
Ciri-ciri. Pohon kantil mempunyai tinggi yang mampu mencapai 30 meter dan mempunyai batang yang berkayu. Pada ranting-ranting pohon cempaka putih biasanya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan.
Daun kantil (cempaka putih) tunggal berbentuk bulat telur dan berwarna hijau. Tangkai daun lumayan panjang, mencapai hampir separo panjang daunnya. Kantil (Michelia alba) mempunyai bunga berwarna putih yang mempunyai bau harum yang khas. Tanaman yang dimitoskan sebagai rumah kuntilanak ini jarang ditemukan mempunyai buah karena itu perbanyakan dilakukan secara vegetatif.
Habitat dan Persebaran. Pohon kantil (cempaka putih) tersebar mulai daratan Asia beriklim tropis hingga beberapa pulau di kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini yang menjadi flora identitas provinsi Jawa Tengah ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Habitat tumbuhan kantil meliputi daerah beriklim tropis pada dataran rendah hingga ketinggian mencapai 1.600 meter dpl.
Manfaat dan Kegunaan. Bunga Kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Bunga Kantil banyak di gunakan pada upacara perkawinan terutama sebagai hiasan sanggul dan keris. Selain itu bunga kantil juga digunakan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar).
Dalam bahasa Jawa, kantil berarti menggantung seperti halnya bunga ini. Bunga Kantil mempunyai makna ritual ‘kemantilkantil’ yang berarti selalu ingat dimanapun berada dan selalu mempunyai hubungan yang erat sekalipun sudah berbeda alam.
Secara medis, bunga, batang, daun kantil (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina dan liriodenina yang mempunyai khasiat sebagai ekspektoran dan diuretik. Karena kandungan yang dipunyainya, kantil dipercaya dapat menjadi obat alternatif bagi berbagai penyakit seperti bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, prostata, infeksi saluran kemih, dan sulit kencing.
Sayangnya khasiat yang dipunyai oleh bunga cempaka putih ini belum tereksplorasi secara maksimal. Sehingga meski saat ini mulai ada yang berusaha membudidayakan tanaman ini tetapi pemanfaatannya lebih banyak untuk acara-acara spiritual dan tradisi.
Menyimak mitos dan kandungan medis yang menyertai fauna identitas provinsi Jawa Tengah ini, kini tergantung kepada masing-masing kita. Apakah lebih mempercayai tanaman ini sebagai rumah kuntilanak atau justru menyadari khasiat medis sebagai obat alternatif yang amat bermanfaat.
Klasifikasi Ilmiah. Kerajaan: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Magnoliales; Famili: Magnoliaceae; Genus: Michelia; Spesies: Michelia alba. Nama latin: Michelia alba. Sinonim: Michelia longifolia (Blume). Nama Indonesia: Kantil, Cempaka Putih.


Sumber: