Kamis, 01 November 2012

KRISIS METAFISIS ( dalam ilmu pengetahuan )

KRISIS METAFISIS Menurut Auguste Comte, perkembangan akal budi manusia bergerak dalam urutan yang linier dan tidak terputus. Perkembangan itu bermula dari tahap teologis ke tahap metafisis dan berakhir di tahap positif. Menurut Comte, teologis dan metafisis adalah pengetahuan yang merupakan lawan dari fakta-fakta positif. Jadi, teologis dan metafisis adalah kejadian yang bersifat khayal, meragukan, ilusi, dan kabur. Pengetahuan tersebut lambat tapi pasti akan tersingkir dan digantikan oleh ilmu pengetahuan positif. Ilmu pengetahuan positif ini, menurut Comte adalah satu-satunya jenis pengetahuan tertinggi dan paling unggul yang pernah dimiliki oleh manusia. Comte menulis, “Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika, sebagai dewasa kita menjadi ahli ilmu alam.” Pada tahap teologis, manusia berusaha menerangkan segenap kejadian dalam kaitannya dengan teka-teki alam yang dianggap bersifat misterius. Namun, manusia tidak menghayati dirinya sebagai makhluk luhur dan rasional dalam usahanya untuk memahami alam semesta. Pada tahap metafisis, manusia mulai merombak cara berpikirnya yang mulai dianggap tidak mampu memenuhi keinginan untuk menemukan jawaban yang memuaskan tentang kejadian alam semesta. Pada tahap ini, semua kejadian tidak lagi diterangkan dalam hubungannya dengan kekuatan yang bersifat rohani dan supranatural. Manusia pada tahap ini berusaha mencari esensi dari segala sesuatu. Perbedaan cara berpikir pada tahap metafisis dengan tahap teologis adalah manusia tidak lagi bersifat fatalis dengan hanya terpaku pada dogma agama. Namun, pada tahap ini masih menggunakan pengandaian-pengandaian. Sehingga tahap ini hanyalah tahap transisi menuju tahap berikutnya.
                Pada tahap positif, kejadian alam tidak lagi dijelaskan melalui pengandaian semata, tetapi melalui berdasarkan pada observasi, eksperimen, dan komparasi yang ketat dan teliti.
Gejala dan kejadian alam harus dibersihkan dari teologis dan metafisisnya. Akal tidak diarahkan untuk mencari kekuatan yang substansial di balik setiap kejadian. Akal pun tidak lagi berorientasi pada pencarian sebab pertama dan tujuan akhir kehidupan. Akal mencari hukum-hukum yang mengatur timbulnya kejadian itu. Hukum-hukum tersebut kemudian dianggap pasti dan dapat dipertanggungjawabkan karena semua orng dapat membuktikannya dengan perangkat metode yang sama seperti perangkat yang dipakai untuk menemukan hukum tersebut. Lebih jauh lagi, hukum-hukum ini kemudian bersifat praktis karena dianggap mampu mengontrol dan memanipulasi kejadian-kejadian sebagai sarana untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Dalam mendapatkan teori ini, Comte berpedoman pada rasionalitas Descartes dan ilmu-ilmu alam. Oleh karena itu, apabila kita telusuri ilmu pengetahuan positif ini, kita akan mendapatkan beberapa asumsi, antara lain:

1. Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif (bebas nilai dan netral) Objektivitas pengetahuan berlangsung dari dua pihak: subjek dan objek. Pada pihak subjek, seorang ilmuwan tidak boleh membiarkan dirinya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dirinya yang bisa mempengaruhi objek yang diobservasi. Pada pihak objek, hal-hal yang tidak dapat diukur tida ditolerir keberadaannya, misalnya estetika sebuah benda seni. Selain itu, objek harus diandaikan tidak mempunyai subjektivitas dan keunikan. 

2. Ilmu pengetahuan hanya berkaitan dengan hal-hal yang berulang kali terjadi Apabila ilmu pengetahuan diarahkan kepada hal-hal unik, pengetahuan tidak akan dapat membantu untuk meramalkan.

3. Ilmu pengetahuan menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam dari saling ketergantungan dan antar hubungannya dengan fenomena-fenomena atau kejadian-kejadian lain. Mereka diandaikan saling berhubungan dan membentuk sistem mekanis. Maka perhatian ilmuwan bukan diarahkan pada hakikat atau substansi dari kejadian-kejadian itu.


  KRISIS METAFISIS DALAM ILMU PENGETAHUAN 

                  Perkembangan Ilmu Pada masa Modern dan Kontemporer secara Epistemologis sebagai ciri yang patut mendapat perhatian dalam epistemologis pembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan. Pandangan itu merupakan kritik terhadap pandangan Aristoteles. Pada abad-abad berikutnya bahwa kemajuan yang dicapai oleh pengetahuan manusia khususnya ilmu-ilmu alam, akan membawa perkembangan manusia pada masa depan yang semakin gemilang dan makmur sebagai akibatnya, ilmu pengetahuan masa modern sangat mempengaruhi dan merubah manusia dan dunianya.
                 Terjadilah Revolusi Industri I sekitar tahun 1900 dengan pemakaian mesin-mesin mekanis lalu Revolusi Industri II (mulai sekitar tahun 1900 dengan pemakaian listrik dan titik awal pemakaian sinar-sinar, dan kemudian Revolusi III yang ditandai dengan penggunaan kegiatan alam dengan penggunaan komputer yang sedang kita saksikan dewasa ini. Dengan demikian adanya perubahan pandangan tentang ilmu pengetahuan mempunyai peran penting dalam membentuk peradaban dan kebudayaan manusia, dan dengan itu pula dampaknya muncul semacam kecenderungan yang pada jantung setiap ilmu pengetahuan juga para ilmuwan untuk lebih berinovasi untuk berikutnya. Kecenderungan yang lain ialah adanya hasrat untuk selalu menerapkan apa yang dihasilkan oleh pengetahuan, baik dalam dunia teknik mikro maupun makro. Dengan demikian tampaklah bahwa semakin maju pengetahuan, semakin meningkat keinginan manusia, sampai memaksa, dan membabi buta. Akibatnya ilmu pengetahuan dan hasilnya menjadi tidak manusiawi lagi, bahkan cenderung memperbudak manusia itu sendiri yang telah merencanakan dan menghasilkannya. Kedua kecenderungan ini secara nyata paling rnenampakkan diri dan paling mengancam keamanan dan kehidupan manusia dalam bidang persenjataan, dalam memakai senjata menghabiskan banyak kenyamanan bumi yang tidak dapat diperbaharui kembali. Pengetahuan dan teknologi modern sebab-sebab yang menimbulkan krisis-krisis di atas ialah kesat dan pistemologi yang mendasari ilmu pengetahuan dan teknologi modern.        
                   Dalam hubungan ini banyak orang bahwa telah mulai berbagi sebagai akibat kesalahan epistemologi Barat. Ini semua dari insektisida sampai polusi, jarahan radioaktif dan kemungkinan mencairnya es di Antartika. Metode ini amat dominan dalam epistemologi modern, khususnya dalam metode keilmuan, ketiga objek yang dikaji adalah realitas, empirs, indrawi, dan dapat dipikirkan dengan rasio. Dalam kaitan ini, Herman Khan menyebutkan budaya yang dihasilkan dari epistemologi di atas adalah budaya indrawi yaitu budaya yang bersifat empiris, duniawi, sekular, tentang tujuan ilmu pengetahuan dalam ilmu pengetahuan modern ialah bahwa ilmu pengetahuan bertujuan menundukkan alam dipandang sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan dinikmati semaksimal mungkin. Dalam hubungan ini Nasr mengemukakan bahwa akibat yang akan terjadi dari pandangan alam diperlakukan oleh manusia modern seperti mengambil manfaat dan kepuasan darinya tanpa rasa kecewa dan tanggung jawab apa pun. Lebih lanjut, Nasr mengritik ilmu pengetahuan modern bahwa ilmu modern mereduksi seluruh esensi metafisik, kepada material dan substansial. Dengan demikian, dunia metafisis nyaris sirna. Kalaupun ada, megafisik mereduksi menjadi filsafat rasional yang selanjutnya sekedar pelengkap ilmu pengetahuan alam dan matematika. Bahkan kosmologi diturunkan derajatnya dengan memandangnya hanya semacam superstisi dengan pandangannya itu, pengetahuan modern menyingkirkan pengetahuan, kosmologi dan rencana. Pada hal menurut Nasr kosmologi adalah ilmu sakral, yang menjelaskan kaitan materi dengan wahyu dan doktrin metafisis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar