Senin, 26 November 2012

Kota Surakarta


Masyarakat jawa masih melakukan  tradisi tradisi budaya jawa yang sangat khas, tradisi tradisi tersebut  di pengaruhi ajaran dan kepercayaan hindu-budha yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Tradisi tradisi tersebut diwariskan oleh leluhur mereka dan sangat dijaga atau dilestarikan sampai sekarang, mereka sangat memgang teguh tradisi tradisi tersebut.
saat ini penduduk yang tingal di daerah daerah jawa sudah tidak lagi penduduk asli jawa karena banyak suku suku dari luar jawa contohnya tiong-hoa, arab dan lain lain yang datang ke tanah jawa untuk memajukan ekonomi contohnya bergerak dalam perdagangan maupun jasa.  Meskipun bahasa indonesia sebagai bahasa resmi bangsa indonesia, mansyarakat jawa masih menggunakan bahasa jawa yang sesuai di daerah masing masing. Bahkan semua seklolah di daerah jawa itu terdapat matapelajaran bahasa jawa.

KOTA SURAKARTA
Surakarta dikenal sebagai salah satu inti kebudayaan Jawa karena secara tradisional merupakan salah satu pusat politik dan pengembangan tradisi Jawa. Kemakmuran wilayah ini sejak abad ke-19 mendorong berkembangnya berbagai literatur berbahasa Jawa, tarian, seni boga, busana, arsitektur, dan bermacam-macam ekspresi budaya lainnya. Orang mengetahui adanya "persaingan" kultural antara Surakarta dan Yogyakarta, sehingga melahirkan apa yang dikenal sebagai "gaya Surakarta" dan "gaya Yogyakarta" di bidang busana, gerak tarian, seni tatah kulit (wayang), pengolahan batik, gamelan, dan sebagainya.

  • Bahasa

Bahasa yang digunakan di Surakarta adalah bahasa Jawa Surakarta dialek Mataraman (Jawa Tengahan) dengan varian Surakarta. Dialek Mataraman/Jawa Tengahan juga dituturkan di daerah YogyakartaMagelang timur, SemarangPatiMadiun, hingga sebagian besar Kediri. Meskipun demikian, varian lokal Surakarta ini dikenal sebagai "varian halus" karena penggunaan kata-kata krama yang meluas dalam percakapan sehari-hari, lebih luas daripada yang digunakan di tempat lain. Bahasa Jawa varian Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname). Beberapa kata juga mengalami spesifikasi, seperti pengucapan kata "inggih" ("ya" bentuk krama) yang penuh (/iŋgɪh/), berbeda dari beberapa varian lain yang melafalkannya "injih" (/iŋdʒɪh/), seperti di Yogyakarta dan Magelang. Dalam banyak hal, varian Surakarta lebih mendekati varian Madiun-Kediri, daripada varian wilayah Jawa Tengahan lainnya.

  • Tarian

Solo memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Solo. Tarian seperti Bedhaya Ketawang secara resmi hanya ditarikan sekali dalam setahun untuk menghormati Sri Susuhunan Pakoe Boewono sebagai pemimpin Kota Surakarta.

 

  • Batik

Batik adalah kain dengan corak atau motif tertentu yang dihasilkan dari bahan malam khusus (wax) yang dituliskan atau di cap pada kain tersebut, meskipun kini sudah banyak kain batik yang dibuat dengan proses cetak. Solo memiliki banyak corak batik khas, seperti Sidomukti dan Sidoluruh. Beberapa usaha batik terkenal adalah Batik Keris, Batik Danarhadi, dan Batik Semar.  Kampung batik  yang terkenal untuk para turis adalah Kampung Batik Kauman. Produk-produk batik Kampung Kauman dibuat menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis premisima dan prima, rayon. Keunikan yang ditawarkan kepada para wisatawan adalah kemudahan transaksi sambil melihat-lihat rumah produksi tempat berlangsungnya kegiatan membatik. Artinya, pengunjung memiliki kesempatan luas untuk mengetahui secara langsung proses pembuatan batik bahkan untuk mencoba sendiri mempraktekkan kegiatan membatik.Batik Solo memiliki ciri pengolahan yang khas: warna kecoklatan (sogan) yang mengisi ruang bebas warna, berbeda dari gaya Yogya yang ruang bebas warnanya lebih cerah. Pemilihan warna cenderung gelap, mengikuti kecenderungan batik pedalaman. Jenis bahan batik bermacam-macam, mulai dari sutra hingga katun, dan cara pengerjaannya pun beraneka macam, mulai dari batik tulis hingga batik cap


  • pakaian mayarakat surakarta
adalah baju kebaya, kemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.

  • Traidisi  yang dikalukan mayarakat surakarta
tradisi tradisi atau upacara upacara adat yang dilakukan masyarakat solo tersebut biasanya hanya di lakukan pada hari hari tertentu contohnya :


Tradisi Apem Sewu
Kirab apem sewu adalah acara ritual syukuran masyarakat Kampung Sewu, Solo, Jawa Tengah  yang digelar setiap bulan haji (bulan Zulhijah-kalender penanggalan Islam).  Ritual syukuran itu diadakan untuk mengenalkan Kampung Sewu sebagai sentra produksi apem kepada seluruh masyarakat sekaligus menghargai para pembuat apem yang ada di sana. Selain itu, upacara ritual syukuran  ini pun dibuat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan karena desa dan tempat tinggal mereka terhindar dari bencana. Mengapa begitu? Menurut Ketua Pelaksana Kirab Apem Sewu, Pak Hadi Sutrisno, letak Kampung Sewu Solo ini adanya di pinggir Sungai Bengawan Solo, termasuk daerah rawan banjir. Makanya, masyarakat mensyukurinya.

Tadisi nginang
Tradisi nginang sudah tidak asing lagi untuk para wanita wanita jawa, mereka sering melakukan kegiatan tersebut pada waktu senggang. Nginang merupakan racikan yang terdiri dari tembakau, daun sirih, injet dan gambir. Semua racikan tersebt di bungkus menjadi  satu pada daun sirih lalu dikunyah. Biasanya yang melakukan nginang tersebut yaitu para wanita yang sudah lanjut usia.

1.      Sekaten
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
2.   
Malam Satu Suro
Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah di barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.
3.
  
Maleman Sriwedari
Maleman Sriwedari adalah lambang reaktualisasi pasar rakyat di kawasan Bonrojo Sriwedari yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Idul Fitri dan beberapa hari sesudahnya. Maleman Sriwedari merupakan pusat keramaian yang pada awalnya diadakan oleh raja terbesar Keraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwana X

  • Makanan khas  kota solo


·        - Pecel nDeso
Pecel nDeso adalah pecel yang berasal dari beras merah, dicampur sayur yang berisi dedaunan dan tanaman mulai dari jantung pisang, nikir, daun petai cina, bunga turi dan kacang panjang. Sambal wijen putih atau hitam. Disantap bersama belut goreng, wader pari goreng, telur ceplok, sosis solo, bongko(kacangmerah dan kelapa), gembrot(kelapa dan daun simbukan), otak dan iso gorenga
·        - Nasi liwet
Nasi liwet adalah makanan khas Solo yang paling terkenal, makanan ini terdiri dari nasi gurih yang di campur dengan sayur labu siam yang di masak sedikit pedas, telur pindang rebus, daging ayam yang disuwir, kumut(kuah santan yang di kentalkan). Penyajiannya biasanya dengan daun pisang yang di pincuk.
·        - Sate Buntel
Sate buntel adalah sate kambing khas Solo yang terbuat dari daging kambing yang di cincang, kemudian di bakar dan di beri bumbu sate.
·        - Timlo solo
 Timlo Solo adalah hidangan berkuah bening yang berisi sosis ayam yang di potong-potong, telur ayam pindang dan irisan hati dan ampela ayam.
·        - Tengkleng
Tengkleng merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak memakai santan. Isi tengkleng adalah tulang-tulang kambing dengan sedikit daging yang menempel, bersama dengan sate usus, sate jeroan , dan otak.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar